Berita

Keutuhan Puasa; Tekad Melawan Syaithan

Oleh : Syaifuddin Mustaming

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kolaka

Sebagai hamba yang sadar dengan berbagai kelemahan, keterbatasan dan ketidakmampuan, sepatutnya tetap dalam status penghambaannya serta mewujudkan rasa syukur kehadirat Allah SWT.

Setiap ikhtiar ibadah yang dilakukan seorang hamba, sungguh sarat dan padat dengan tantangan, cobaan bahkan godaan dan gangguan yang kerap kali menjadi alat dan provokasi syaithan la’natullah. Demikian halnya puasa Ramadhan ini, untuk sampai pada tingkatan yang benar-benar ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah, tentunya juga melalui sejumlah cobaan dan tantangan dimaksud.

Dalam kaitan tersebut, adalah puasa para hamba yang shalihin, atau bahkan puasa para hamba yang terpercaya, menjadi ikhtiar dan sasaran dari puasa kita, yaitu menahan anggota badan dari kemaksiatan, yang tak bisa sempurna kecuali dengan pelaksanaan Lima perkara, yaitu :

Pertama; Menahan pandangan dari segala sesuatu yang dilarang oleh syariat,

Kedua; Menahan lidah dari dusta, fitnah, sumpah palsu dan menjelek-jelekkan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda (Diriwayatkan oleh Anas R.A), bahwa:

“Lima perkara membatalkan puasa; dusta, fitnah (ghibah), sumpah palsu, menjelek-jelekkan orang lain dibelakangnya dan pandangan dengan syahwat. (al Hadits)

Ketiga; Menahan telinga dari pendengaran sesuatu yang tidak baik,

Keempat; Menahan anggota badan dan menahan perut dari makanan yang syubhat di waktu buka puasa, karena tidak akan ada artinya berpuasa dari makanan halal (di siang harinya), tetapi berbuka dengan makanan yang haram (saat buka puasa).

Kelima; Menahan diri di waktu berbuka, sehingga tidak terlalu penuh atau berlebih-lebihan.

Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak ada sesuatu wadah yang paling dibenci oleh Tuhan daripada perut yang penuh dengan makanan halal. (al Hadits)

Ketika kelima hal di atas dapat terwujud secara baik, Insya Allah; ibadah puasa dalam arti utuh dan tujuan yang dimaksud mengalahkan syaithan (musuh-musuh Allah SWT), dengan jalan mematahkan senjata ampuhnya yaitu hawa nafsu dan syahwat, akan dapat tercapai.

Dengan praktek puasa para Shalihin, Insya Allah; niscaya dalam setiap saat pada keseharian kehidupan ini akan terlahir prilaku dan akhlak mulia yang diridhai Allah SWT, jauh dari berbagai kemaksiatan yang pada gilirannya akan mengantarkan kita menuju tercapainya manusia yang memiliki derajat mulia, yaitu Muttaqiin

Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada malaikat pencatat dalam bulan Ramadhan yang mencatat amal manusia, agar mencatat segala amal kebajikan umat Muhammad dan tidak mencatat dosa maksiatnya dan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melimpahkan ampunan, perlindungan dan ridha-NYA kepada kita sekalian, Ámiin Yá Mujiib.(***)

















Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button